Cerita Sex Berkorban Demi Jadi ARTIS

Cerita Sex Berkorban Demi Jadi ARTIS

Cerita Sex Berkorban Demi Jadi ARTIS

Mobil sudah sampai di tempat parkir studio, tempat Richard akan syuting untuk acaranya. Keduanya keluar dari mobil. Pevita mendekati Richard di sisi mobil yang berbeda.
Pak, saya sudah melaksanakan permintaan Bapak. Jadi bisa kiranya Bapak menampilkan grup kami di acara Bapak,” Pevita kembali meminta.
”Saya bilang tadi malam, jika Mbak menjadi pelayang saya, saya akan mempertimbangkannya. Bukannya grup Mbak pasti tampil di acara saya,” Richard berkilah. Dahi Pevita berkerut.
“Jadi Bapak menipu saya?” tanyanya tajam.
“Saya tidak menipu Mbak. Saya bilang, kalau Mbak mau jadi pelayan saya SATU MALAM  saya akan mempertimbangkannya. Jadi, saya akan mempertimbangkannya. Jadi grup Mbak belum tentu tampil, tapi belum tentu juga tidak tampil, mengerti?” Richard berdiplomasi.
“Tapi Pak, tolonglah Pak, kasihanilah saya. Saya rela menjadi pelayan Bapak tadi malam, masa Bapak tega membiarkan grup saya tidak tampil. Pak tolonglah…” Pevita terus mengiba. Ia tidak ingin pergi sebelum mendapat kepastian.
Richard berpikir sejenak.
“Baiklah, Mbak orang yang gigih. Saya suka itu. Saya pun orang yang gigih. Kalau tidak, mungkin saya masih jadi orang miskin, tidak seperti sekarang. Saya menghargai usaha Mbak Pevita,” kali ini Richard menyebut nama Pevita dengan benar.
“Begini saja, kita adakah test audisi. Mbak dan anggota grup Mbak datang ke apartemen saya besok malam, jam sepuluh. Ingat, jangan bawa siapa-siapa lagi. Cukup kalian berenam. Kalau di audisi besok kalian oke, kalian bisa tampil di acaraku. Mengerti?” Richard menjelaskan.
“Baik, sudah dulu ya, sebentar lagi saya mulai syuting. Saya tunggu besok malam, mari…” Richard permisi menuju gedung studio. Pevita masih berdiri mematung melihat tubuh gemuk itu berjalan menjauhinya. Audisi, di apartemen? Benaknya penuh curiga…
“Girls, tolong perhatikan sebentar ya. Ini ada pengumuman sangat penting,” Pevita akan menerangkan perihal ‘audisi’ dengan Richard Rahwana kepada kelima anggota grupnya. Kelimanya tampak masih mandi keringat setelah latihan koreografi dan sedikit exercise.
“Kalau kita bisa tampil di talk shownya, rating kita akan naik, dan kita akan makin populer. Jadi kalian harus tampil sebaiknya ya,” Pevita meyakinkan.
”Tapi Kak, kenapa audisinya malam? Di apartemen lagi, bukan di studio,” Olief protes.
“Malam karena siangnya beliau sangat sibuk, mulai syuting hingga mengurus hal yang lain. Di apartemen karena kalau malam studionya tutup, jadi beliau tidak mau mengganggu karyawan lainnya karena sudah jam pulang,” Pevita terus meyakinkan.
“Terus nanti kita ngapain aja Kak? Nyanyi?” Donya penasaran.
”Sama nari juga Kak?” Sharon menambahkan.
”Yaa kakak belum tahu, yang penting kalian harus siap perform apapun yang diminta. Oke?” Pevita menjawab dengan tegas.
”Oke kak,” kelimanya mengiyakan Pevita.
Pevita bukannya tak curiga kalau Richard akan mengerjai kelima gadis SMA ini seperti Richard mengerjai dirinya, tapi ia memilih tak bicara banyak. Pokoknya ia punya target untuk membawa girlband ini ke puncak popularitas, dan talk show ini adalah salah satu cara terbaik. Kalau misalnya akhirnya mereka berlima dikerjai Richard, toh aku pun sudah dikerjai.
Aku pun sudah berkorban. Aku berkorban untuk popularitas mereka, mereka juga harus berkorban. Lagipula mana mungkin Richard dan Teguh berdua mengerjai kami berenam. Melawan aku seorang diri saja Richard sudah kewalahan, mana mungkin mengerjai kami berenam, begitu pikir Pevita.
Malamnya jam tujuh lebih empat puluh lima, mereka berenam sudah di depan pintu kamar Richard. Pevita mengetuk pintu tiga kali. Tak lama pintu dibuka. Seorang wanita cantik yang membuka pintu itu.
”Malam Bu Pevita, malam teman-teman semua, silakan masuk,” kata wanita itu ramah.
”Terima kasih Bu Lenny, ayo masuk. Kenalkan ini Bu Lenny, asisten Pak Richard,” ujar Pevita. Mereka saling bersalaman.
Ruangan apartemen itu sudah didekor ulang, berbeda ketika beberapa hari yang lalu Pevita menginap di sini. Ada lima kursi di dekat jendela balkon, sementara di seberangnya sebuah sofa panjang. Tak lama Pak Richard keluar dari kamar.
”Selamat malam semua, mari silakan,” ujar Pak Richard ramah. Ia menyalami keenam tamunya.
Kemudian duduk di sofa panjang. Kelima anggota girlband itu dipersilakan duduk di kursi dekat jendela, sementara Pevita duduk di sofa dekat Richard. Lenny datang membawakan minuman ringan untuk mereka semua.
”Silakan diminum, jangan malu-malu,” Richard mempersilakan semua minum. Mereka pun minum. Awalnya Pevita curiga minumannya diberi obat perangsang, tapi melihat minumannya belum dibuka dari kalengnya, kecurigaannya hilang.
”Baik Pak Richard dan Bu Lenny, terima kasih sudah menerima kami di sini. Kami bermaksud memenuhi undangan Bapak untuk melakukan audisi, tentunya dengan harapan agar kami bisa tampil di acara Bapak,” Pevita memulai pembicaraan.
”Baik, terima kasih sudah memenuhi undangan saya. Sebenarnya nanti yang akan memberikan arahan adalah Bu Lenny, sementara saya hanya memberikan penilaian saja. Silakan Bu Lenny dimulai,” Richard mempersilakan Lenny.
”Terima kasih Pak Richard. Baik Adik-adik, coba memperkenalkan diri dulu satu persatu,” pinta Lenny.
Di antara kelima gadis ini, empat di antaranya keturunan Chinese sehingga berkulit putih dan sipit. Hanya Donya yang bermata belo, namun kulitnya senada dengan temannya yang lain. Berhubung semua masih SMA, mereka berlima berbadang langsing, bahkan agak kurus.
Cuma Olief yang berbadan agak montok, terlihat dari tonjolan payudaranya dan bongkahan pantatnya yang melebihi keempat temannya. Kelimanya berambut sebahu, malam ini dikepang dua.
“Baik, setelah kalian memperkenalkan diri, silakan kalian memperagakan salah satu musik kalian, lengkap dengan koreonya. Tapi berhubung nama grup kalian Teese 5 to 1, saya minta kalian mengenakan kostum seperti Dita Von Teese. Sanggup?” tantang Lenny.
”Ko…kostum yang mana Bu?” Donya bertanya gugup.
“Kostumnya sudah kami siapkan, kalian hanya memakai penutup puting dan celana dalam g-string ini,” Lenny menyodorkan sebuah kotak berisi g-string dan cup penutup puting payudara.
Kelima gadis itu saling berpandangan, kemudian mereka menoleh ke Pevita meminta pendapat. Pevita mengerti kebimbangan mereka dan berdiri mendekati mereka.
”Kak, kami malu kalau pakai itu. Kan ada Pak Richard, kalau wanita semua sih kami masih sanggup Kak,” Donya mengeluh.
”Donya, kalian harus bisa melewati ujian ini. Masa cuma ditonton Pak Richard seorang diri saja sudah malu? Ingat, ini jalan menuju kesuksesan. Lagi pula kalian kan tidak telanjang, puting kalian masih ditutup, kalian juga masih pakai celana dalam.
Tidak apa kok, ini adalah hal yang wajar dalam industri hiburan. Kalian anggap saja Pak Richard itu patung atau apalah, jangan dihiraukan. Lagipula kan Bu Lenny yang memberi arahan. Oke?” Pevita berusaha meyakinkan anggotanya.
Semuanya saling berpandangan lagi, kemudian menganggukan kepala.
”Oke deh Kak, tapi kami jangan sampai bugil ya Kak, pliss,” Lilian mengiba pada Pevita.
”Oke lah, pokoknya kalian mesti perform dengan baik ya,” Pevita memberi semangat pada mereka.
”Baru pake kostum begini saja sudah protes, aku yang dientot depan belakang tidak protes sama kalian,” dalam benak Pevita.
”Maaf Bu, kami ganti kostum di mana?” Christa bertanya pada Lenny.
”Di sini saja tidak apa-apa. Jangan malu sama saya dan Pak Richard. Kami sudah terbiasa mengaudisi gadis-gadis kok. Silakan…” Lenny menjawab.
Kelima gadis itu agak ragu, terutama melihat sorot mata Richard yang tajam dan bernafsu. Tetapi setelah melihat Pevita memberi tanda supaya menurut, maka mereka pun melakukannya. Masing-masing membuka baju yang mereka kenakan dari rumah.
Ketika melepas BH, sengaja mereka membalikkan tubuh supaya payudara mereka yang ranum-ranum tidak terlihat Richard. Begitu juga ketika membuka celana dalam, mereka rela pantat mereka menjadi santapan mata Richard, asal jangan bagian depan kemaluan mereka. Kini mereka sudah memakai kostum seksi itu.
Mereka agak grogi, bahkan sangat grogi karena tidak menyangkan akan menggunakan kostum seperti ini. Kemudian Pevita bangkit dan memberikan semangat kepada mereka supaya tidak grogi. Mereka akhirnya siap untuk perform. Lagu dari pemutar mp3 yang disambungkan dengan subwoofer dimainkan. Masing-masing melakukan tugasnya sesuai koreografi.
Mereka menyanyi bergantian dengan tepat dan lancar, sesuai skenario. AC disetel tidak terlalu dingin supaya mereka berlima makin bersemangat membawakan lagu. Dari sofa, Richard menikmati pemandangan indah ini. Kesepuluh buah dada ranum yang bergoyang indah, kelima pasang pantat yang meliuk dengan seksinya, belum paha dan betis lincah mereka yang jenjang dan terkespos.
Ia menikmati ereksi kontolnya sambil menunggu rencananya terus berjalan. Setelah tiga lagu selesai, mereka beristirahat di kursi masing-masing sambil menenggak minuman ringan. Lenny minta penilaian dari Richard. Richard berdiri dari sofa mendekati kelima gadis itu.
”Kalian sebenarnya berpotensi, tetapi kenapa tarian kalian seperti tidak lepas. Seperti tanggung. Seperti tenaganya kurang keluar. Untuk tampil di acara saya, kalian harus lebih dari itu,” Richard berkomentar.
”Anu Pak, kami takut penutup puting ini lepas. Makanya kami agak ragu untuk keluarkan powernya,” Olief yang memang dadanya paling montok menjawab.
”Ah, jadi itu alasannya, cup puting ini. Baiklah, begini saja, kalian lepas cup putingnya sekalian supaya kalian bisa keluarkan power kalian. Setuju?” tantang Richard.
Kelima gadis itu terbelalak, saling berpandangan. Mereka sama sekali tidak mengira akan disuruh menyanyi dengan topless seperti itu dengan puting terbuka sama sekali. Mereka mulai menggelengkan kepada tanda tak sanggup. Pevita pun mendekati mereka.
”Kak, kami malu kalau begini Kak,” Sharon mengeluh sambil meringis.
”Tidak apa-apa, toh sekarang dada kalian sudah terekspos. Menurut Kakak, tidak apa-apa kalau terbuka sedikit lagi ya. Lagi pula kan Pak Richard benar, karena penutup ini kalian jadi kurang lepas,” ujar Pevita.
”Tapi Kak, kami malu, kami takut,” giliran Christa yang mengeluh.
”Oke lah, supaya kalian tidak ragu dan tidak takut, Kakak akan berpakaian seperti kalian. Kakak akan melepas baju Kakak dan hanya mengenakan celana dalam. Oke? Pokoknya Kakak ingin kalian maju terus. Kakak rela melakukan apa pun untuk kalian. Mengerti?” Pevita terus meyakinkan.
Kelima gadis SMA itu masih belum percaya sepenuhnya dengan Pevita. Lalu Pevita kembali ke sofa, kemudian ia benar-benar melepas semua bajunya, membiarkan payudaranya yang indah menggantung terbuka, kedua putingnya yang coklat muda bisa terlihat siapa saja, meninggalkan hanya selembar celana dalam. Kemudian ia duduk kembali di sofa dan menyuruh kelima gadis itu untuk melakukan hal yang sama.
“Bagaimana Adik-adik? Sanggup melepas cup putingnya?” tanya Lenny.
“Ba…baik Bu,” jawab mereka lemah.
“Baik, coba maju ke sini satu-satu, biar saya yang lepaskan,” perintah Richard.
Awalnya Christa ragu, tapi akhirnya ia maju duluan. Sebelum melepas cup itu, ia meraba dan meremas kedua buah dada Christa. Christa terkejut bukan main, namun ia tidak bisa apa-apa. Richard hanya sekilas meraba dan meremasnya, kemudian melepas cup itu sambil memencet puting yang kini terbuka. Christa hanya menahan napas ketika kedua putingnya dipencet Richard.
“Baik silakan kembali. Selanjutnya…” suruh Richard.
Maka kesepuluh buah dada para gadis itu lengkap dengan putingnya menerima jamahan tangan hitam Richard.
”Ah ini yang paling montok, bagus…bagus…” puji Richard ketika meremas buah dada Olief.
“Oke Adik-adik, silakan mempersiapkan diri untuk lagu keempat,” ujar Lenny.
“Ayo kalian bisa, perform yang terbaik ya. Keluarkan powernya, “ Pevita memberikan semangat.
Perang batin mulai berkecamuk di dada kelima gadis itu. Antara menatap impian mengejar popularitas, namun merasa aneh dan malu dengan keadaan seperti ini, bernyanyi dan menari setengah telanjang di depan pria gemuk hitam yang tampak seperti maniak, membiarkan dada mereka dijamah oleh pria tak sopan itu. Hasilnya, performance mereka malah menurun.
”Saya agak heran, kenapa penampilan terakhir kalian malah tambah loyo?” Richard memberikan komentar.
”Kalian masih ingin tampil di acara saya tidak?” tanya Richard.
“Ma..masih Pak,” jawab mereka lemah.
”Ah, kalian tidak semangat. Kalau kalian lemah, kalian tidak akan bisa jadi pemenang. Kalian akan kalah terus oleh saingan-saingan kalian yang sekarang sudah go international. Kalian masih ingin jadi superstar tidak?” Nada Richard menantang.
”Masih Pak,” jawab mereka dengan suara mulai keras.
”Tidak kedengaran. Mau tidak jadi superstar?” Richard membentak.
“Masih!!!” kini mereka berlima menjawab dengan berteriak, membangkitkan semangat pada diri mereka.
“Baik, ini ujian terakhir. Silakan kalian perform lagu kalian, berikan yang terbaik. Tapi sekarang kalian tanggalkan celana dalam kalian. Jadi kalian sanggup?” Richard bertanya.
Kelima gadis itu jadi panik. Mereka sempat berpikir apakah mereka akan menjadi girlband atau stripteaser? Lalu apa bedanya. Mereka terus saling berpandangan.
”Kalian jangan salah sangka. Saya menyuruh kalian telanjang bukan karena saya pervert, tapi saya menguji kalian, sampai mana kalian sanggup melakukan sesuatu untuk mencapai tujuan kalian. Sampai di mana totalitas kalian.
Lihat manajer kalian Bu Pevita, beliau tidak saya minta membuka baju, tapi demi kalian dia rela. Itu dia lakukan demi kalian. Sekarang saya mau tahu sampai mana kesanggupan kalian,” Richard membuat alasan. Pevita berdiri mendekati kelima gadis itu.
”Sedikit lagi sayang, satu lagu lagi, kalian perform yang terbaik dan kita akan pulang. Dan besok kita bisa tampil di tv, dan jalan kita ke depan akan semakin mudah. Kakak mohon. Pak Richard benar, ini bukan masalah telanjang, ini masalah kesungguhan kalian. Pokoknya anggap saja pria tua itu tidak ada. Anggap kalian perform dengan baju lengkap, pokoknya fokus pada lagu kalian. Mengerti?” Pevita memberika arahan.
“Jangan sampai kerja keras kita hilang gara-gara malam ini kita gagal gara-gara dua orang itu. Nanti kita harus tampil di depan ribuan orang, masa dua orang ini saja kalian tak sanggup. Kakak yakin kalian sanggup. Oke?” Pevita menegaskan.
”Oke Kak, kita akan lakukan,” Olief menjawab yakin. Yang lain pun mengiyakan.
”Aku lakukan ini demi Kakak, makasih Kak,” Lilian menambahkan. Pevita kembali ke sofa.
”Bagaimana, kalian sanggup?” Richard bertanya lagi.
”Kami sanggup,” jawab kelimanya.
”Baik, maju ke sini satu-satu, biar kulepas celana dalam kalian,” perintah Richard.
Kini Lilian yang maju pertama.
”Renggangkan kakimu,” perintah Richard.
Lilian merenggangkan kakinya. Kemudian Richard membuka celana itu dari sisi kanan dan kiri, menariknya dari bawah dengan tangan kiri, sambil tangan kanannya meraba selangkangan Lilian. Lilian tersentak, namun ia bertahan untuk tidak bereaksi.
”Bagus, kau harus tetap fokus,” puji Richard.
Selanjutnya yang lain mengikuti Lilian. Setiap kali itulah Richard dapat mengusap kemaluan kelima gadis SMA itu, sesekali ia menghirup tangan kanannya, menikmati aroma memek mereka yang masih amat sangat segar. Selanjutnya mereka menampilkan lagu kelima mereka dengan sangat bersemangat. Mereka berhasil memberikan performance terbaik mereka.
Mereka menari dengan penuh tenaga, hingga peluh membasahi tubuh-tubuh telanjang mereka. Setelah lagu usai, Richard dan Lenny berdiri memberikan applause. Hal ini membuat kelima gadis itu bersorak kegirangan dan saling berpelukan.
Sebuah pemandangan yang jarang bisa dinikmati oleh Richard, lima gadis SMU telanjang berpelukan di depan hidungnya. Goyangan buah dada itu, bokong yang sekal, ah dia sudah tidak sabar ingin menjamahnya lagi.
”Baik, Bu Pevita, kalian berlima, saya nyatakan kalian akan tampil di acara saya,” tegas Richard. Kelima gadis itu berpelukan menghampiri Pevita yang juga tertawa gembira.
”Terima kasih Pak, terima kasih atas kesempatannya,” Pevita berterima kasih pada Richard.
”Baik, saya turut senang. Tapi saya lihat kalian kadang-kadang masih suka hilang fokus. Baiklah, untuk kalian malam ini akan kuberikan bonus latihan fokus. Kalian mau?” tanya Richard.
”Mau Pak,” mereka berlima menjawab semangat.
”Baik, kalian berlima berdiri menghadap kursi kalian itu,” perintah Richard.
Mereka berlima kembali ke kursi dan menghadap kursi itu membelakangi sofa, sementara Richard menuju ke jendela sehingga berada di depan mereka.
”Rengganggkan kaki kalian dengan lebar, dan membungkuk. Membungkuk agak bawah, tangan tetap berpegangan pada kursi,” perintah Richard.
“Ingat kalian tetap fokus pada mata saya, apapun yang terjadi. Tetap fokus. Bu Lenny, Bu Pevita, tolong dibantu,” ujar Richard.
Lenny sudah mengerti apa yang diinginkan Richard. Ia menuju ke belakang para gadis itu, kemudian dengan kedua tangannya mulai mengusap memek dan anus Christa dan Sharon yang sedang membungkuk. Awalnya mereka kaget dan langsung menoleh ke belakang, namun Lenny menyuruh mereka untuk tetap fokus pada mata Richard, mereka kembali menoleh ke depan.
Sementara Pevita mengikuti apa yang dilakukan Lenny, mengusap memek dan anus Donya, Lilian dan Olief dari belakang. Usapan demi usapan membuat kelima gadis itu mulai terangsang. Kemudian Richard membuka celananya dan memelorotkan celana dalamnya.
Kontolnya yang sudah tegang dari tadi langsung mencuat keluar. Kelima gadis itu sempat kaget, namun Richard terus berkata, “Fokus…fokus…”
Pemandangan kontol Richard yang tegang, ditambah usapan pada anus dan memek, membuat mereka terangsang hebat. Lubang memek menjadi basah oleh keringat dan lendir kewanitaan mereka. Mereka semua sudah tahu yang namanya seks, sebab mereka pernah melakukannya dengan pacar-pacar mereka, kecuali Donya yang masih perawan.
Ketika rangsangan itu makin hebat, pinggul mereka mulai bergoyang tidak karuan, seketika itu pula usapan pada anus dan memek mereka berubah menjadi sodokan daging keras yang memaksa menyeruak liang kewanitaan mereka.
Mereka kaget bukan kepalang, apalagi Donya yang merasa sangat kesakitan karena daging itu berusaha merobek keperawanannya, namun mereka tidak bisa menoleh karena kepala mereka terasa ada yang memegangi. Mereka hanya bisa merasakan daging keras itu terus menusuk, menusuk dalam, menghentak-hentak hingga memberikan mereka kenikmatan luar bisa pada memek mereka.
Sebenarnya inilah rencana Richard. Ketika kelima wanita itu sudah terangsang hebat, maka Teguh dan teman-teman supirnya keluar dari persembunyiannya di kamar Richard. Mereka yang dari tadi menonton audisi bugil di ruang tengah lewat kamera tersembunyi sudah menghunuskan kontolnya sehingga ketika keluar langsung menembus liang-liang sanggama kelima wanita itu, terus menusuk hingga yang menusuk dan ditusuk sama-sama meraih puncak kenikmatan.
Sementara ketika kelima gadis itu disetubuhi, Richard langsung mendekati Pevita dan menggendongnya ke sofa. Di situ ia menindih dan menyetubuhi Pevita. Sementara Lenny meololoskan celana dalamnya dan menindih mulut Pevita dengan memeknya.
Ia memaksa Pevita menjilati memeknya hingga ia meraih orgasme.Sempurna, seperti apa yang Richard rencanakan.

Cerita Sex Berkorban Demi Jadi ARTIS

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.